Novel Biografi Chairil Anwar, sang penyair yang Pencuri


Judul: Ini Kali Tak Ada Mencari Cinta
Penulis: Sergius Sutanto
Penerbit : Qanita
Pengulas buku: Pera Sagala


Kisah Penyair ulung asal Medan ini, akhirnya kutuntaskan dalam petualangan di negeri Daeng.

Pribadi binatang jalang dari kumpulan yg terbuang adalah sosok yg bebas, nakal, tak suka kemapanan dan berakhir dalam sakit menyiksa meski ingin hidup seribu tahun.

Penyair yg merubah era sastra Indonesia. Satu hal yg membuat ku kaget adalah Chairil Anwar seorang pencuri. Ya... pencuri!.

Bukan saja pencuri karya orang lain, seperti yg dituduhkan padanya pada puisi Kerawang-Bekasi. Tapi memang Chairil Anwar memiliki track record mencuri. Pencuri buku di toko buku pasar Senen langganannya, mencuri jas kesayangan teman baiknya, dan yang paling konyol adalah mencuri seprai ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Lebih konyolnya lagi, gegara mencuri seprai, dia batal berpidato dengan gagah pada momen penting yg lama ditunggunya. Padahal teks pidatonya sudah dipersiapkan nya berhari-hari akhirnya dibacakan orang lain.

Begitupun bengalnya Chairil Anwar, dia adalah teman yang disayangi oleh sekitarnya. Meski dihutangi, dibully, ditumpangi hidup. Jadi..ya.. Chairil Anwar memang pencuri.Tak heran jika tuduhan membajak karya orang lain itu benaran ada.

Perilaku mencuri dipupuk dari mencuri hal2 remeh temeh..

Yg menarik adalah...pada satu titik, Chairil Anwar dibogem oleh sahabatnya HB Jassin. "Kalau tidak kuhentikan, kau takkan belajar". Katanya.

Skandal plagiasi itu, akhirnya diakui oleh Chairil Anwar, dan Jera!. Syukurlah....tak dilanjutkannya plagiasi itu.

Nah... kebayang kan andai sahabat sekitar Chairil Anwar adalah para pencuri juga?. Apa jadinya sebutan untuk angkatan 45?.

Bersyukurlah punya teman-teman yg mengingatkan dalam kebenaran.

Dan jika kau plagiator, belajar lah dari Chairil Anwar Berani mengakui kesalahan, dan berubah

Nama besar Chairil Anwar memang tak pudar karena plagiasinya atau pencuriannya. Andai tak baca buku biografi ini aku juga gak tau lebih detail borok pribadi Penyair yg memang bangga dengan sebutan si binatang jalang.

Walau penulisnya mati, karya plagiasi itu sepertinya masih akan hidup seribu tahun lagi.

Menurut ku...kasus plagiasi itu jadi monumen keberanian mengungkapkan kebenaran.

Kenapa? Krn HB Jassin sang sahabat, yg mengambil resiko mengungkapkan pencurian karya Chairil Anwar. meski itu dilakukan oleh sahabat kesayangannya, meski HB Jassin sendiri pun harus kehilangan pekerjaannya.

Kasus plagiasi itu adalah Monumen integritas para pegiat sastra diawal kemerdekaan yg tetap menjaga etika dan menghargai karya bangsa lain meskipun di era bangsa kita masih banyak yg buta huruf dan tak mengerti plagiasi .

Aku perhatikan sekitar kita juga ada aja..teman yg sebrengsek brengsek kisah biografi ini, yang anehnya disayangi banyak orang. Namun sesayang2nya kamu pada teman seperti itu...tetap lah mengingatkan dalam kebenaran, dan kejujuran.

Dan menjelang kematiannya, Chairil Anwar dikelilingi sahabat-sahabatnya yg luar biasa itu. Beruntung bgt.

...
Bung, Ayo Bung!. Ini sepotong kalimat, Slogan membakar semangat perjuangan saat era kemerdekaan. Ternyata karya Chairil Anwar. Tau.. terinsipirasi dari mana?. Dari ucapan lirih yg didengar Chairil di lorong2 pelacuran pasar Senen. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.
..

Karen lama menghabiskan waktu membaca buku ini, maka wajib kuabadikan dalam review. Terimakasih sudah membaca review ini ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


No comments:

Powered by Blogger.